Jumat, 01 Desember 2017

Kata Baper VS Kata Maaf

Saat ini banyak sekali kosakata baru yang biasa disebut bahasa gaul. Entah asalnya dari mana, tapi kata-kata tersebut dengan cepat diadaptasi ke percakapan sehari-hari. Contohnya kata baper. Baper merupakan singkatan dari Bawa Perasaan. Biasanya digunakan kepada orang yang dianggap terlalu mudah tersinggung.

“Ih gitu aja baper!”
“Jangan baper dong, kan cuma bercanda!”

Saya sendiri pernah dikatai seperti itu oleh seseorang. Ia mengucapkan sesuatu yang menurut saya berlebihan, dan seketika itu juga langsung saya tegur. Awalnya ia menganggap teguran saya adalah candaan, dan ketika melihat raut muka saya, ia sadar bahwa saya benar-benar tidak suka dengan perkataannya. Ia pun meminta maaf, dan saya memaafkan. Namun, ketika kita sudah saling memaafkan, ia malah menceritakan kejadian tersebut kepada teman-teman, di hadapan saya. “Kemaren nada tuh baper ke aku, padahal aku kira udah akrab. Aku kan cuma bercanda,” katanya. Saya yang mendengarnya tidak berekspresi apa-apa. Saya tidak tahu apa yang ia harapkan dari saya ketika mendengar perkataan itu.

Sesungguhnya saya bukan orang yang mudah tersinggung, bahkan seringkali bercanda dengan teman-teman. Namun ketika saya melihat ada sesuatu yang berlebihan, maka saya akan mengingatkan. Jika ada yang salah, ya dibetulkan. Begitu bukan cara bergaul yang baik? Itu pula yang saya lakukan kepada teman saya. Saya tidak marah, apalagi dendam kemudian tidak mau berbicara dengannya selama beberapa hari. Saya hanya ingin mengingatkannya agar tidak berkata seperti itu lagi kepada saya dan orang lain. Namun sepertinya teman saya belum bisa menangkap maksud tersebut.

Dari kejadian tersebut, saya merasa kata baper telah mempersempit rasa empati kepada orang lain. Kemudian menyebabkan kata maaf mulai jarang digunakan. Semuanya diselesaikan dengan “lebay banget sih gitu aja baper!” kemudian yang dikatai hanya diam dan menerima. 

Hanya orang dengan hati besarlah yang mau saling memaafkan. Dengan kata maaf sebuah hubungan antarpersona bisa terjalin. Seseorang juga bisa menjadi pribadi yang lebih baik jika mau mendengar saran dan kritik dari orang lain. Semoga kosakata yang semakin berkembang tidak mempersempit rasa kemanusiaan. 

Share:

Selasa, 28 Maret 2017

Anak dan Media Baru: Bersatu tak Dapat Dipisahkan

Setelah tumbuh dewasa, saya semakin yakin bahwa sejauh ini, masa kecil adalah masa yang paling menyenangkan dari keseluruhan alur kehidupan saya. Urusannya hanya sekolah dengan pintar dan dapat peringkat di kelas. Hiburan dapat dengan mudah didapat dari nonton kartun di televisi, dan main internet di akhir pekan.

Loh kenapa internetannya hanya di akhir pekan? Jadi, saya baru bermain internet ketika kelas 1 SMP. Kemudian, memiliki handphone yang bisa mengakses internet ketika kelas 2 SMP. Saat itu saya baru mengakses internet untuk bermain facebook saja. Dulu rasanya asyik sekali bermain facebook, karena bisa chatting dengan teman-teman sekolah. Kemudian saya melihat teman-teman saya banyak yang kecanduan bermain facebook dan menomorduakan tugas-tugas dari guru. Saya tidak mau seperti itu. Orang tua saya sendiri tidak pernah melarang ataupun memberi batasan kepada saya dalam menggunakan internet. Jadilah saya membatasi diri saya sendiri untuk bermain internet hanya pada hari Sabtu dan Minggu. Untunglah, karena hal tersebut masa kecil saya yang penuh kebahagiaan terselamatkan.

Beda dulu, beda sekarang. Jika dahulu bermain internet saya anggap sebagai privilage setelah seminggu bersekolah, saat ini teknologi bukan lagi hal yang istimewa karena bisa diakses dimanapun dan kapanpun. Semua orang bisa mengakses internet, termasuk anak-anak. Baca dulu Pemerataan Akses Internet di Indonesia.

Ketersediaan perangkat keras membuat anak-anak menjadi ahli dalam mengoperasikan teknologi tanpa perlu diajari. Bagus memang, anak-anak menjadi melek teknologi dan tidak ketinggalan zaman. Tetapi apakah anak-anak sudah ahli juga dalam menggunakannya? Maka dari itu, perlu kiranya kita mengetahui pembahasan tentang internet dan anak-anak agar kita dapat mengetahui apa saja pengaruh internet pada anak, bagaimana cara mengatasinya, dan bagaimana cara menggunakan internet dengan bijak.

Internet tidak sepenuhnya baik, tetapi juga tidak perlu dihindari. Mungkin kita sebagai orang dewasa sudah mengetahui hal tersebut, tetapi tidak dengan anak-anak. Mereka menggunakan tanpa memahami apa sebenarnya dampak dari internet bagi dirinya. Beberapa ahli berikut berusaha menyampaikan pandangannya terhadap penggunaan internet oleh anak-anak.
1.     Seymour Papert (1993)
Seymour Papert berpendapat bahwa pembelajaran dengan new media lebih unggul dari pada pembelajaan biasa. Hal tersebut karena new media membuat anak-anak menjadi lebih responsive. Dengan begitu anak-anak menjadi lebih mudah dalam bersosialisasi dan mengekspresikan diri.
2.      Jon Katz (1996)
John Katz berpendapat bahwa internet menjadi kesempatan bagi anak-anak untuk membebaskan diri dari kontrol orang tua. Dengan kebebasan itu, anak-anak dapat membuat kultur dan komunitasnya sendiri.
3.      Don Tapscott (1997)
Don Tapscott beranggapan bahwa internet menciptakan generasi elektronik yang lebih demokratis, imajinatif, tanggung jawab, dan memiliki banyak informasi.
4.      Tobin (1998)
Tobin merasa bahwa media baru membuat anak-anak menjadi anti sosial, dan menghancurkan interaksi manusia.
5.      Provenzo (1991)
Provenzo berpendapat bahwa media digital dapat menjadi pengaruh buruk pada kebiasaan anak-anak. Anak-anak bisa meniru tindak kekerasan yang dilihat.

Biasanya anak-anak menggunakan internet dan komputer untuk bermain games. Papert (1993) berkata bahwa games merupakan hal utama yang diakses oleh anak-anak ketika mengenal dunia komputer. Seringkali games yang dimainkan oleh anak-anak adalah games yang di dalamnya terdapat karakter tokoh favoritnya. Misalnya games Spongebob Squarepants Collapse. Meskipun permainannya sederhana, banyak anak-anak yang suka memainkan game tersebut karena ia menyukai Spongebob Squarepants dan sering menontonnya di telelvisi. Tidak berhenti sampai di situ, biasanya anak-anak juga menginginkan barang-barang yang bergambar kartun favoritnya, seperti perlengkapan sekolah, pakaian, lemari, dan benda lainnya. Nah, hal-hal inilah yang bisa disebut sebagai kapitalisme. Stallybrass (1992) menggunakan penelitian dari Adorno dan Benjamin untuk mengembangkan teori permainan sebagai bentuk kemunduran/regresi yang disebabkan oleh budaya kapitalis. Jadi dibalik sebuah games, ternyata ada sesuatu yang lebih besar, yang terkadang tidak diketahui oleh penggunanya bahkan pembuatnya.

Selain kapitalisme, ada lagi fakta besar dibalik games. Secara tidak langsung, games dapat mempengaruhi karakter anak. Anak-anak bisa menganggap adegan di dalam games seperti kekerasan, sebagai sesuatu yang wajar dan boleh dilakukan sehingga kemudian ditiru di kesehariannya. Pernah bermain games Pac-Man? Klein (1984) menyebutkan bahwa permainan klasik Pac-Man, menunjukkan kecenderungan sadomasokis. Sadomasokis adalah sebuah gangguan psikologis dengan menyakiti diri sendiri melalui perlakuan seksual.

Permainan Pac-Man (Pacman.com)


Ketidaktahuan anak-anak akan dampak internet dan games inilah yang seharusnya mengusik ketenangan orang dewasa. Ketidaktahuan tersebut jangan sampai dibiarkan begitu saja. Orang dewasa tidak perlu memisahkan anak-anak dari internet dan game, karena seperti dua kutub magnet, hal tersebut susah dilakukan. Terlebih banyak yang bilang bahwa dunia anak-anak adalah dunia bermain. Di masa kecillah seseorang memiliki waktu lebih yang bisa dinikmati untuk bermain games. Saya pun tidak rela jika ketika kecil dulu, saya harus dipisahkan dari komputer, internet, dan games.

Orang dewasa bisa menyelamatkan anak-anak dari dampak negatif internet dengan memberi bimbingan dan pengawasan kepada anak-anak. Orang dewasa, terutama orang tua, harus mengetahui situs-situs apa saja yang dibuka oleh anaknya. Harus mengetahui juga games seperti apa yang diunduh dan dimainkan oleh anak-anaknya.

Selain games, akses internet lainnya seperti sosial media, juga harus dipantau oleh orang tua. Orang tua harus tau aktivitas anak di sosial media, dengan siapa anak-anaknya berinteraksi, juga bagaimana anaknya menunjukkan identitas di sosial media. Hal tersebut perlu dilakukan karena saat ini banyak sekali kejahatan yang bermula dari sosial media, seperti penculikan hingga pembunuhan.

Pembuat software aplikasi dan permainan (programmer) juga perlu memiliki rasa tanggung jawab atas karyanya. Programmer perlu mempertimbangkan unsur apa saja yang ada di dalam software buatannya. Programmer bisa memanfaatkan games untuk dimasuki unsur pendidikan sehingga anak-anak bisa bermain sambil belajar. Terhibur dan mendapat pengetahuan.

Daftar Pustaka                                                                                              
Lievrouw, Leah A. & Sonia Livingstone. 2006. Handbook of New Media: Social Shaping and Social Consquences of ITCs, Sage Publication Ltd. London. Chapter 3: “Children and New Media”.

    
Share:

Selasa, 21 Maret 2017

Pemerataan Akses Internet di Indonesia

Kemajuan teknologi komunikasi telah melahirkan new media, yang membuat penggunaan internet menjadi marak di dunia. Termasuk saya yang memanfaatkan internet untuk menulis di blog ini, dan kalian yang menggunakan internet untuk membaca blog saya. Dengan adanya perangkat keras seperti laptop dan android, kita bisa mengakses internet dimanapun dan kapanpun. Terlebih jaringan wifi sudah ada dimana-mana. hal tersebut membuat kita dengan mudahnya dapat mengakses internet. Pada tahun 2014, lembaga riset pasar e-Marketer mengatakan bahwa  populasi pengguna internet di Indonesia telah mencapai 83,7 juta. Angka tersebut membuat Indonesia berada di posisi ke-6 jumlah pengguna internet dunia.




Namun, apakah angka tersebut juga menjamin pemerataan akses internet di Indonesia? Van Dijk (1999) dan Rojas (2004) mengemukakan beberapa hambatan dalam penggunaan new media, antara lain usia, akses jaringan, cara menggunakan aplikasi, modal ekonomi, gender, etnisitas, dan modal kultural.

Bukan rahasia lagi jika beberapa daerah di pedalaman Indonesia masih memiliki ketersediaan jaringan dan aksebilitas yang rendah. Jaringan dari internet broadband belum menjangkau daerah dengan kondisi geografis yang jauh dari kota besar. Internet broadband hanya memusatkan jaringan di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, sedangkan daerah seperti Papua dan Sulawesi belum diutamakan. Hal tersebut menyebabkan internet tidak dapat diakses oleh beberapa etnis di Indonesia seperti Suku Dani, Papua, dan Baduy.  Survey yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistika (BPS) pada pengguna internet berdasarkan klasifikasi daerah juga menunjukan bahwa peningkatan penggunaan internet pada daerah perkotaan lebih tinggi daripada di pedesaan.

Selain letak geografis, tingkat pendidikan juga mempengaruhi penggunaan akses internet pada masyarakat. Survei BPS membuktikan bahwa orang yang sedang menempuh pendidikan lebih sering mengakses internet daripada orang yang tidak atau sudah tidak menempuh pendidikan. Hal tersebut karena saat ini banyak sumber pembelajaran siswa yang berasal dari internet. Selain itu, terdapat juga metode pembelajaran yang memanfaatkan internet, bernama e-learing. Bahkan, kini di internet juga tersedia situs-situs website yang menawarkan video pembelajaran secara online dengan iming-iming keberhasilan nilai.



Punya anggota keluarga yang tidak mahir menggunakan teknologi komunikasi? Hal tersebut biasanya dialami oleh orang tua yang sudah berumur lanjut. Mereka tidak terbiasa menggunakan teknologi dan merasa kesulitan dalam menggunakan aplikasi berbasis online sehingga memilih untuk tidak menggunakannya. Mereka juga merasa bahwa teknologi bukanlah bagian dari dirinya, sehingga ada tidaknya teknologi tidak terlalu berpengaruh. Berbeda sekali dengan generasi muda saat ini yang selalu berusaha mengikuti perkembangan teknologi sehingga sangat menguasai penggunaan teknologi komunikasi. Berikut adalah komposisi pengguna internet berdasarkan usia, hasil survey yang dilakukan oleh BPS. 



Rojas (2004) juga membahas penggunaan internet pada gender. Topik tersebut sudah disurvey oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet di Indonesia (APJII) pada tahun 2016. Meski tidak sama, penggunaan internet antara pria dan wanita menunjukkan hasil yang tidak terlalu signifikan. Dari total 132,7 jiwa pengguna internet di Indonesia, 51,8 persen adalah pria dan 48,2 persen wanita.

Kemajuan teknologi komunikasi setiap waktu, membuat harga perangkat teknologi semakin murah. Bila dahulu handphone merupakan barang mewah, kini hampir setiap orang memilikinya karena pilihan harganya semakin bervariasi. Selain itu, handphone juga sudah menjadi kebutuhan, sehingga setiap orang akan berusaha memilikinya meskipun berpenghasilan kecil. Hal tersebut membuat akses internet tidak hanya bisa diakses oleh orang-orang berpenghasilan tinggi saja. Seperti yang terlihat pada table, setiap orang dengan berbagai pekerjaan dan pendapatan dapat melakukan akses internet.


Menggunakan internet merupakan hak bagi semua orang. Termasuk para penyandang disabilitas. Kekurangan bukan alasan untuk ketinggalan zaman. Orang dengan disabilitas juga mau dan mampu menggunakan internet. Pada tahun 2014 di kabupaten tempat tinggal saya, Banyumas, pernah diadakan pelatihan internet untuk disabilitas. Pelatihan tersebut diadakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Literasi dan Profesi Kominfo bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Banyumas. Pelatihan tersebut diadakan dengan sasaran para penyandang disabilitas di kota Purwokerto, dan diikuti oleh PERTUNI (Persatuan Tuna Netra Indonesia), ITMI (Ikatan Tuna Netra Muslim Indonesia), PPCI (Persatuan Penyandang Cacat Indonesia), dan Murid SLB Bagian B Yakut Purwokerto. Tujuan hal tersebut tidak lain adalah agar penyandang disabilitas dapat memanfaatkan internet untuk hal-hal positif.

Menurut APJII, beberapa alasan utama masyarakat Indonesia menggunakan intermnet adalah untuk update informasi, pekerjaan, mengisi waktu luang, sosialisasi, pendidikan, hiburan, berbisnis, dan mencari barang. Dari penjelasan di atas, maka masyarakat Indonesia menggunakan internet untuk hal-hal yang positif. Menurut saya, internet dengan segala manfaat positifnya berhak diakses oleh semua orang terlepas dari tempat tinggal, usia, gender, penghasilan, dan kondisi fisik. tidak ada pembatasan terkait pengaksesan internet. Sayangnya, dari penjelasan di atas dapat kita ketahui bahwa pemerataan akses internet belum terwujud karena ada beberapa hambatan yang belum teratasi. Saya pribadi berharap agar beberapa waktu ke depan, semua orang dapat mengakses internet dan mengoptimalkan penggunaannya untuk kemajuan.

Daftar Pustaka

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia. “Survei Internet APJII 2016”. Diakses pada 21 Maret 2017. https://apjii.or.id/content/read/39/264/Survei-Internet-APJII-2016.


Badan Pusat Statistik. “Komposisi Penggunaan Internet Berdasarkan Usia pada Tahun 2016” Diakses pada 21 Maret 2017. https://statistik.kominfo.go.id/site/searchKonten?iddoc=1517.

Badan Pusat Statistik. “Persentase Pengguna Internet Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tahun 2014”. Diakses pada 21 Maret 2017. https://statistik.kominfo.go.id/site/searchKonten?iddoc=1330.


Badan Pusat Statistik. “Penetrasi Pengguna Internet Berdasarkan Pekerjaan Tahun 2016”. Diakses pada 21 Maret 2017. https://statistik.kominfo.go.id/site/searchKonten?iddoc=1515.

Dinas Perhubungan Pemerintah Kabupaten Banyumas. “Penyandang Disabilitas Mendapat Pelatihan Internet”. diakses pada 21 Maret 2017. http://dinhub.banyumaskab.go.id/read/15858/penyandang-disabilitas-mendapat-pelatihan-internet#.WNEGMm_yjDc.

Lievrouw, Leah A. & Sonia Livingstone. 2006. Handbook of New Media: Social Shaping and Social Consquences of ITCs, Sage Publication Ltd. London. Chapter 4: “Perspectives on Internet Use: Access, Involvement and Interaction”.

Nugrahanto, Pradipta. “BigNet Ingin Sediakan Layanan Internet Murah Berkualitas untuk Kawasan Terpencil di Indonesia.” Diakses pada 21 Maret 2017. https://id.techinasia.com/bignet-internet-broadband-satelit-murah-daerah-terpencil.

Yusuf, Oik “Pengguna Internet Indonesia Nomor Enam Dunia”. Diakses pada 21 Maret 2017. http://tekno.kompas.com/read/2014/11/24/07430087/Pengguna.Internet.Indonesia.Nomor.Enam.Dunia.
Share:

Selasa, 14 Maret 2017

Ikut Komunitas Virtual, Kenapa Tidak?

Mengikuti suatu komunitas memang menyenangkan. kita dapat berkenalan dengan orang lain yang memiliki kesamaan minat, juga menambah pengetahuan dari sesama anggota komunitas. Sebelum teknologi semaju sekarang, manusia banyak mengikuti komunitas organik, yaitu komunitas yang melakukan kegiatan dengan bertatap muka secara langsung dan memiliki kegiatan rutin. Namun dengan adanya kemajuan teknologi, kebiasaan itu berubah.

Kemajuan teknologi komunikasi membuat penggunanya bisa berinteraksi dengan pengguna lain tanpa khawatir akan jarak dan waktu. Kebutuhan manusia juga dapat terpenuhi dengan adanya kemajuan teknologi, apalagi dengan adanya internet. Ada pengguna yang memanfaatkan internet untuk kegiatan edukasi seperti pembelajaran e-learning, memenuhi kebutuhan ekonomi dengan membuka online shop, dan mencari informasi di search engine.

Internet juga dapat membantu orang-orang dengan minat yang sama membentuk komunitas. Pernah tidak kalian mencari akun suatu komunitas di platform sosial media? Saya sendiri sering melakukannya, apalagi ketika memiliki hobi baru. Seperti beberapa waktu lalu ketika saya tertarik dengan kegiatan hand lettering, saya langsung mencari akun komunitas hand lettering  di instagram. Dari akun tersebut, saya dapat melihat dan mempelajari karya hand lettering orang lain meskipun belum pernah bertemu secara langsung. Setelah mengikuti akun tersebut, saya jadi bisa membuat hand lettering sendiri.


Hand lettering yang saya buat setelah melihat karya hand lettering orang lain.
Selain saya, ternyata Ibu saya juga melakukan hal tersebut. Beliau bergabung dengan grup facebook yang beranggotakan orang-orang yang suka membuat barang-barang handmade. Di grup tersebut anggotanya saling mengirimkan foto barang yang dibuat, juga penjelasan tentang cara membuatnya. Maka dari itu, Ibu saya sering mendapat inspirasi ketika memiliki waktu luang dan ingin membuat barang handmade. Contohnya saja ketika ibu saya sedang menyukai Bunga Anggrek. Selain menanam bunganya, ibu saya juga membuat Bunga Anggrek handmade yang berbahan stocking.


Anggrek handmade dari stocking buatan ibu saya.
Komunitas yang terbentuk dari internet itulah yang disebut komunitas virtual. Anggota komunitas virtual biasanya tidak pernah bertemu satu sama lain sehingga diskusi dilakukan tanpa kontak fisik. Menarik kan, tidak pernah bertemu tapi bisa bertukar pikiran? Tapi apakah komunitas virtual selalu berdampak positif?

Kalian pernah menemui orang yang sifat dikesehariannya berbeda dengan sifatnya di platform sosial media? Itulah salah satu hal yang seharusnya tidak terjadi ketika menggunakan internet. Terkadang orang yang dikesehariannya pendiam dan pemalu, ternyata sangat aktif menggunakan sosial media, bahkan bisa menjadi pemimpin atau panutan di komunitas virtual. Lebih parah lagi jika terdapat pengguna yang membuat akun di internet dengan identitas palsu. Jika saat ini banyak ditemui orang-orang seperti itu, apa penyebab terjadinya?

Internet memang memberi peluang pada penggunanya untuk membuat identitas baru. Bisa dengan membuat nama palsu, tanggal lahir palsu, hingga jenis kelamin palsu. Biasanya orang-orang yang melakukan hal tersebut adalah orang yang diremehkan dan tidak dianggap di dunia nyata. Ia merasa kurang percaya diri dengan bentuk fisik, wajah, dan keadaan dirinya. Maka dengan membuat identitas baru di internet, ia merasa lebih nyaman karena seolah menjadi orang yang baru. Ia juga Seringkali memiliki keterikatan emosional yang lebih kuat dengan anggota komunitas virtualnya dibanding dengan teman-temannya di dunia nyata. Hal-hal di atas biasa disebut dengan jebakan virtual.

Meskipun penggunaan internet, dalam hal ini komunitas virtual juga memiliki dampak negatif, bukan berarti kita harus menghindari kemajuan teknologi. Sudah seharusnya manusia bijak dalam menggunakannya dan tidak terjerumus pada jebakan virtual. Pengguna harus memanfaatkan internet untuk menunjang kehidupan nyatanya. Misalnya dengan menunjukkan karya yang dibuat melalui internet. Jika menyukai fotografi, bisa memposting hasil gambar di instagram. Jika senang membuat video, bisa membuat channel youtube. Jika suka menulis, bisa membagi tulisannya melalui blog. Apalagi saat ini platform sosial media semakin lengkap. Untuk orang-orang yang suka menyanyi pun ada wadahnya.

Jika sudah melakukan hal tersebut, maka penggunaan internet justru dapat memperkuat identitas kita di dunia nyata. Karya-karya yang kita tunjukan dapat menjadi bukti bahwa kita ada. Dengan begitu tidak ada lagi rasa tidak dianggap dan diremehkan. Lagipula internet merupakan wadah yang efektif untuk menunjukkan karya yang dimiliki karena efisien dan dapat dilihat oleh orang di berbagai penjuru dunia.

Saat ini sudah banyak orang-orang yang berhasil memperkenalkan karyanya dengan memanfaatkan teknologi komunikasi. Misalnya grup musik GAC yang memulai kariernya dengan mengupload video cover di youtube dan kemudian berhasil dikenal sebagai grup musik terbaik di Indonesia, juga Raditya Dika yang awalnya menulis di blog pribadinya kemudian saat ini dikenal sebagai penulis, aktor, dan sutradara professional.

Saya sendiri sudah mencoba melakukan hal tersebut. Saya menulis identitas di seluruh sosial media saya sesuai dengan identitas asli. Saya suka mengunggah hasil foto saya di akun instagram, mengunggah video di akun youtube, dan menulis beberapa tulisan di blog. Hasilnya, beberapa kali saya dimintai tolong untuk mengambil foto dan mengedit video oleh teman-teman, yang berarti mereka mengakui karya yang saya buat.

Jadi, mari berani menjadi diri sendiri dan jangan ragu untuk mengikuti komunitas virtual!

Daftar Pustaka                                                                                              
Lievrouw, Leah A. & Sonia Livingstone. 2006. Handbook of New Media: Social Shaping and Social Consquences of ITCs, Sage Publication Ltd. London. Chapter 2: “Creating Community with Media: History, Theories, and Investigations”



Share:

Senin, 06 Februari 2017

Dieng, Urusan Kita Belum Selesai

Libur semester 3 masih 1 bulan, rencana-rencana liburan meminta untuk diwujudkan. Termasuk rencanaku dengan @nurisnaini dan @alfiraputrip pergi ke Wonosobo, mengunjungi rumah @lailirizqiani dan mampir ke Dieng.

Tanggal keberangkatan sudah ditentukan, tempat destinasi sudah dipilih. Kami akan berangkat pada tanggal 1 Februari pagi, dan pada hari itu juga mengunjungi Telaga Menjer. Tanggal 2 Februari pagi-pagi sekali kami akan berangkat ke Dieng dan mengunjungi berbagai tempat wisata yang ada di sana seperti Candi Arjuna, Telaga Warna, dan Batu Ratapan Angin. Tanggal 3 Februari, kami pulang ke Purwokerto.

1 Februari pagi, Aini datang ke rumahku. Kami memang berencana pergi ke Wonosobo menggunakan motor, agar memudahkan kami mengunjungi tempat wisata. Setelah menjemput Fira di Purbalingga dan mengucap Bismillah, kami berangkat. Panjangnya Banjarnegara kita lewati dengan sabar, hingga terlihat gapura selamat datang di Wonosobo. Udara mulai berubah sejuk. Sampai di rumah Lelek kami diberi pemandangan petak-petak kebun sayur dan awan yang terasa sangat dekat dan bergerak cepat.

Setelah istirahat, kami berangkat menuju Telaga Menjer. Suasana cukup sepi karena bukan hari libur. Tiket masuk 4 orang, biaya parkir 2 motor dan menitipkan 4 helm berjumlah Rp 10.000. Di sana kami menaiki perahu untuk mengelilingi telaga dengan biaya Rp 15.000/orang. Setelah selesai berkeliling telaga menggunakan perahu, perut kami minta diisi. Tak melewatkan kesempatan, aku memesan semangkok Mie Ongklok dan Tempe Kemul khas Wonosobo.


Selamat datang di Telaga Menjer Wonosobo.
Pemandangan dari atas perahu.
2 Februari kami bangun dengan antusias. Sayangnya, cuaca tidak mendukung karena hujan deras. Rencana keberangkatan kami pada pukul 09.00 terpaksa ditunda hingga cuaca terang. Pukul 11.00, gerimis kecil. Karena sudah direncakan, kami tetap bertekad untuk pergi ke Dieng. Langit mendung memayungi perjalanan kami. Tanaman sayur di kanan dan kiri jalan menemani kami menaiki jalan yang menanjak. Tiba di gardu pandang, gerimis menderas. Kami ragu untuk melanjutkan karena angin pun bertiup kencang, padahal tempat tujuan belum kelihatan. Perjalanan ke Dieng yang dipaksakan ini terpaksa juga tidak dilanjutkan. Akhirnya kami turun dan memutuskan untuk pergi ke pusat kota saja.

Kiri ke kanan: Aini, Lelek, Nadha, Fira.
3 Februari, kami berharap masih bisa pergi ke Dieng kemudian pulang ke Purwokerto. Tetapi melihat prakiraan cuaca oleh BMKG dan kondisi tubuh yang kurang fit, kami langsung pulang ke Purwokerto.


Meski gagal mengunjungi Dieng, liburan ini tetap menyenangkan. hal-hal sederhana yang kami lakukan bersama ternyata meninggalkan kesan seperti bermain monopoli, berbincang seharian, dan menghabiskan bertoples-toples makanan ringan.



Kami merencanakan liburan bersama lainnya, semoga ada rezeki karena itulah penyebab utama gagalnya rencana liburan mahasiswa seperti kami. Aku juga berjanji pada diriku sendiri untuk datang ke Dieng entah kapan waktunya. Semoga Tuhan mengizinkan.
Share: