Rabu, 26 April 2017

Dibalik Bulu Mata Palsu Purbalingga

Purbalingga - Di Kabupaten Purbalingga Provinsi Jawa Tengah, dapat ditemukan banyak pabrik yang melakukan produksi rambut dan bulu mata palsu. Selain di pabrik, produksi rambut dan bulu mata palsu juga dilakukan di rumah-rumah warga sebagai home industry.

Salah satu daerah di Purbalingga yang memiliki banyak home industry rambut dan bulu mata palsu adalah Desa Karangbanjar. Saking identiknya Desa Karangbanjar dengan rambut dan bulu mata palsu, warga desa setempat pernah membuat sanggul raksasa seberat 7 kwintal yang kemudian masuk ke dalam catatan rekor muri.

Industri rambut dan bulu mata palsu di Karangbanjar dimulai sejak tahun 60-an. “Awalnya terdapat warga Karangbanjar yang akan menikah, lalu terdapat orang tua yang mencoba membuat sanggul dari rambut-rambut yang terdapat disisir. Kemudian ada yang melihat dan tertarik, dan dibuatlah wig.“ Ujar Arif Budiyanto, warga Desa Karangbanjar.

Rambut dan bulu mata palsu dari Purbalingga sudah tidak diragukan lagi kualitasnya. Pasarannya pun bukan di Indonesia saja, melainkan sampai ke luar negeri seperti Amerika dan Korea. Dengan begitu, tidak berlebihan jika Purbalingga disebut sebagai salah satu tempat penghasil rambut dan bulu mata palsu terbesar di dunia.

Berkembangnya industri rambut dan bulu mata palsu di Purbalingga membuat sebagian masyarakatnya menggantungkan hidup sebagai pegawai pabrik. Mulai dari remaja hingga orang tua, semua boleh ikut bekerja. Sayangnya, tak jarang ada yang bergabung sebelum lulus sekolah, atau karena tidak bisa melanjutkan pendidikan. 

(Inadha Rahma Nidya)


Share:

Selasa, 28 Maret 2017

Anak dan Media Baru: Bersatu tak Dapat Dipisahkan

Setelah tumbuh dewasa, saya semakin yakin bahwa sejauh ini, masa kecil adalah masa yang paling menyenangkan dari keseluruhan alur kehidupan saya. Urusannya hanya sekolah dengan pintar dan dapat peringkat di kelas. Hiburan dapat dengan mudah didapat dari nonton kartun di televisi, dan main internet di akhir pekan.

Loh kenapa internetannya hanya di akhir pekan? Jadi, saya baru bermain internet ketika kelas 1 SMP. Kemudian, memiliki handphone yang bisa mengakses internet ketika kelas 2 SMP. Saat itu saya baru mengakses internet untuk bermain facebook saja. Dulu rasanya asyik sekali bermain facebook, karena bisa chatting dengan teman-teman sekolah. Kemudian saya melihat teman-teman saya banyak yang kecanduan bermain facebook dan menomorduakan tugas-tugas dari guru. Saya tidak mau seperti itu. Orang tua saya sendiri tidak pernah melarang ataupun memberi batasan kepada saya dalam menggunakan internet. Jadilah saya membatasi diri saya sendiri untuk bermain internet hanya pada hari Sabtu dan Minggu. Untunglah, karena hal tersebut masa kecil saya yang penuh kebahagiaan terselamatkan.

Beda dulu, beda sekarang. Jika dahulu bermain internet saya anggap sebagai privilage setelah seminggu bersekolah, saat ini teknologi bukan lagi hal yang istimewa karena bisa diakses dimanapun dan kapanpun. Semua orang bisa mengakses internet, termasuk anak-anak. Baca dulu Pemerataan Akses Internet di Indonesia.

Ketersediaan perangkat keras membuat anak-anak menjadi ahli dalam mengoperasikan teknologi tanpa perlu diajari. Bagus memang, anak-anak menjadi melek teknologi dan tidak ketinggalan zaman. Tetapi apakah anak-anak sudah ahli juga dalam menggunakannya? Maka dari itu, perlu kiranya kita mengetahui pembahasan tentang internet dan anak-anak agar kita dapat mengetahui apa saja pengaruh internet pada anak, bagaimana cara mengatasinya, dan bagaimana cara menggunakan internet dengan bijak.

Internet tidak sepenuhnya baik, tetapi juga tidak perlu dihindari. Mungkin kita sebagai orang dewasa sudah mengetahui hal tersebut, tetapi tidak dengan anak-anak. Mereka menggunakan tanpa memahami apa sebenarnya dampak dari internet bagi dirinya. Beberapa ahli berikut berusaha menyampaikan pandangannya terhadap penggunaan internet oleh anak-anak.
1.     Seymour Papert (1993)
Seymour Papert berpendapat bahwa pembelajaran dengan new media lebih unggul dari pada pembelajaan biasa. Hal tersebut karena new media membuat anak-anak menjadi lebih responsive. Dengan begitu anak-anak menjadi lebih mudah dalam bersosialisasi dan mengekspresikan diri.
2.      Jon Katz (1996)
John Katz berpendapat bahwa internet menjadi kesempatan bagi anak-anak untuk membebaskan diri dari kontrol orang tua. Dengan kebebasan itu, anak-anak dapat membuat kultur dan komunitasnya sendiri.
3.      Don Tapscott (1997)
Don Tapscott beranggapan bahwa internet menciptakan generasi elektronik yang lebih demokratis, imajinatif, tanggung jawab, dan memiliki banyak informasi.
4.      Tobin (1998)
Tobin merasa bahwa media baru membuat anak-anak menjadi anti sosial, dan menghancurkan interaksi manusia.
5.      Provenzo (1991)
Provenzo berpendapat bahwa media digital dapat menjadi pengaruh buruk pada kebiasaan anak-anak. Anak-anak bisa meniru tindak kekerasan yang dilihat.

Biasanya anak-anak menggunakan internet dan komputer untuk bermain games. Papert (1993) berkata bahwa games merupakan hal utama yang diakses oleh anak-anak ketika mengenal dunia komputer. Seringkali games yang dimainkan oleh anak-anak adalah games yang di dalamnya terdapat karakter tokoh favoritnya. Misalnya games Spongebob Squarepants Collapse. Meskipun permainannya sederhana, banyak anak-anak yang suka memainkan game tersebut karena ia menyukai Spongebob Squarepants dan sering menontonnya di telelvisi. Tidak berhenti sampai di situ, biasanya anak-anak juga menginginkan barang-barang yang bergambar kartun favoritnya, seperti perlengkapan sekolah, pakaian, lemari, dan benda lainnya. Nah, hal-hal inilah yang bisa disebut sebagai kapitalisme. Stallybrass (1992) menggunakan penelitian dari Adorno dan Benjamin untuk mengembangkan teori permainan sebagai bentuk kemunduran/regresi yang disebabkan oleh budaya kapitalis. Jadi dibalik sebuah games, ternyata ada sesuatu yang lebih besar, yang terkadang tidak diketahui oleh penggunanya bahkan pembuatnya.

Selain kapitalisme, ada lagi fakta besar dibalik games. Secara tidak langsung, games dapat mempengaruhi karakter anak. Anak-anak bisa menganggap adegan di dalam games seperti kekerasan, sebagai sesuatu yang wajar dan boleh dilakukan sehingga kemudian ditiru di kesehariannya. Pernah bermain games Pac-Man? Klein (1984) menyebutkan bahwa permainan klasik Pac-Man, menunjukkan kecenderungan sadomasokis. Sadomasokis adalah sebuah gangguan psikologis dengan menyakiti diri sendiri melalui perlakuan seksual.

Permainan Pac-Man (Pacman.com)


Ketidaktahuan anak-anak akan dampak internet dan games inilah yang seharusnya mengusik ketenangan orang dewasa. Ketidaktahuan tersebut jangan sampai dibiarkan begitu saja. Orang dewasa tidak perlu memisahkan anak-anak dari internet dan game, karena seperti dua kutub magnet, hal tersebut susah dilakukan. Terlebih banyak yang bilang bahwa dunia anak-anak adalah dunia bermain. Di masa kecillah seseorang memiliki waktu lebih yang bisa dinikmati untuk bermain games. Saya pun tidak rela jika ketika kecil dulu, saya harus dipisahkan dari komputer, internet, dan games.

Orang dewasa bisa menyelamatkan anak-anak dari dampak negatif internet dengan memberi bimbingan dan pengawasan kepada anak-anak. Orang dewasa, terutama orang tua, harus mengetahui situs-situs apa saja yang dibuka oleh anaknya. Harus mengetahui juga games seperti apa yang diunduh dan dimainkan oleh anak-anaknya.

Selain games, akses internet lainnya seperti sosial media, juga harus dipantau oleh orang tua. Orang tua harus tau aktivitas anak di sosial media, dengan siapa anak-anaknya berinteraksi, juga bagaimana anaknya menunjukkan identitas di sosial media. Hal tersebut perlu dilakukan karena saat ini banyak sekali kejahatan yang bermula dari sosial media, seperti penculikan hingga pembunuhan.

Pembuat software aplikasi dan permainan (programmer) juga perlu memiliki rasa tanggung jawab atas karyanya. Programmer perlu mempertimbangkan unsur apa saja yang ada di dalam software buatannya. Programmer bisa memanfaatkan games untuk dimasuki unsur pendidikan sehingga anak-anak bisa bermain sambil belajar. Terhibur dan mendapat pengetahuan.

Daftar Pustaka                                                                                              
Lievrouw, Leah A. & Sonia Livingstone. 2006. Handbook of New Media: Social Shaping and Social Consquences of ITCs, Sage Publication Ltd. London. Chapter 3: “Children and New Media”.

    
Share:

Jumat, 24 Maret 2017

10 Hari Operasi Simpatik, Masyarakat Mulai Taat

Purwokerto - Operasi simpatik kembali digelar di Purwokerto. Dilaksanakan sejak tanggal 1-21 Maret 2017, kini operasi simpatik telah memasuki hari pelaksanaan ke-10. Sejauh ini, kesadaran masyarakat untuk mentaati peraturan lalu lintas sudah mulai tumbuh. “Masyarakat sudah mulai sadar dengan membawa surat-surat penting seperti SIM dan STNK, juga sadar akan keselamatan dengan menggunakan helm pengaman,” ujar Akp. Susanto, S.H.

Fokus dari operasi simpatik adalah pengemudi dan pengendara yang mengancam keselamatan diri, seperti berbonceng tiga, berjalan dengan kondisi zig zag, dan berkendara dalam kondisi mabuk. Selain itu, mobil dan bus yang membawa muatan lebih, angkutan kota yang penumpangnya bergelantungan di pintu, juga menjadi sasaran.

Operasi simpatik merupakan langkah preventif dari kepolisian. Sehingga pengemudi dan pengendara yang tertangkap melanggar peraturan lalu lintas sebatas diberi peringatan dan teguran saja. Dengan dilaksanakannya operasi simpatik ini, diharapkan angka kecelakaan dan pelanggaran lalu lintas akan menurun.

Selain mengadakan operasi simpatik, kepolisian juga akan melaksanakan agenda lain untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam berkendara. Agenda tersebut antara lain pembinaan dan penyuluhan (binluh) tentang tertib lalu lintas di sekolah-sekolah, juga operasi yang diadakan secara rutin.

(Inadha Rahma Nidya)







Share:

Selasa, 21 Maret 2017

Pemerataan Akses Internet di Indonesia

Kemajuan teknologi komunikasi telah melahirkan new media, yang membuat penggunaan internet menjadi marak di dunia. Termasuk saya yang memanfaatkan internet untuk menulis di blog ini, dan kalian yang menggunakan internet untuk membaca blog saya. Dengan adanya perangkat keras seperti laptop dan android, kita bisa mengakses internet dimanapun dan kapanpun. Terlebih jaringan wifi sudah ada dimana-mana. hal tersebut membuat kita dengan mudahnya dapat mengakses internet. Pada tahun 2014, lembaga riset pasar e-Marketer mengatakan bahwa  populasi pengguna internet di Indonesia telah mencapai 83,7 juta. Angka tersebut membuat Indonesia berada di posisi ke-6 jumlah pengguna internet dunia.




Namun, apakah angka tersebut juga menjamin pemerataan akses internet di Indonesia? Van Dijk (1999) dan Rojas (2004) mengemukakan beberapa hambatan dalam penggunaan new media, antara lain usia, akses jaringan, cara menggunakan aplikasi, modal ekonomi, gender, etnisitas, dan modal kultural.

Bukan rahasia lagi jika beberapa daerah di pedalaman Indonesia masih memiliki ketersediaan jaringan dan aksebilitas yang rendah. Jaringan dari internet broadband belum menjangkau daerah dengan kondisi geografis yang jauh dari kota besar. Internet broadband hanya memusatkan jaringan di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, sedangkan daerah seperti Papua dan Sulawesi belum diutamakan. Hal tersebut menyebabkan internet tidak dapat diakses oleh beberapa etnis di Indonesia seperti Suku Dani, Papua, dan Baduy.  Survey yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistika (BPS) pada pengguna internet berdasarkan klasifikasi daerah juga menunjukan bahwa peningkatan penggunaan internet pada daerah perkotaan lebih tinggi daripada di pedesaan.

Selain letak geografis, tingkat pendidikan juga mempengaruhi penggunaan akses internet pada masyarakat. Survei BPS membuktikan bahwa orang yang sedang menempuh pendidikan lebih sering mengakses internet daripada orang yang tidak atau sudah tidak menempuh pendidikan. Hal tersebut karena saat ini banyak sumber pembelajaran siswa yang berasal dari internet. Selain itu, terdapat juga metode pembelajaran yang memanfaatkan internet, bernama e-learing. Bahkan, kini di internet juga tersedia situs-situs website yang menawarkan video pembelajaran secara online dengan iming-iming keberhasilan nilai.



Punya anggota keluarga yang tidak mahir menggunakan teknologi komunikasi? Hal tersebut biasanya dialami oleh orang tua yang sudah berumur lanjut. Mereka tidak terbiasa menggunakan teknologi dan merasa kesulitan dalam menggunakan aplikasi berbasis online sehingga memilih untuk tidak menggunakannya. Mereka juga merasa bahwa teknologi bukanlah bagian dari dirinya, sehingga ada tidaknya teknologi tidak terlalu berpengaruh. Berbeda sekali dengan generasi muda saat ini yang selalu berusaha mengikuti perkembangan teknologi sehingga sangat menguasai penggunaan teknologi komunikasi. Berikut adalah komposisi pengguna internet berdasarkan usia, hasil survey yang dilakukan oleh BPS. 



Rojas (2004) juga membahas penggunaan internet pada gender. Topik tersebut sudah disurvey oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet di Indonesia (APJII) pada tahun 2016. Meski tidak sama, penggunaan internet antara pria dan wanita menunjukkan hasil yang tidak terlalu signifikan. Dari total 132,7 jiwa pengguna internet di Indonesia, 51,8 persen adalah pria dan 48,2 persen wanita.

Kemajuan teknologi komunikasi setiap waktu, membuat harga perangkat teknologi semakin murah. Bila dahulu handphone merupakan barang mewah, kini hampir setiap orang memilikinya karena pilihan harganya semakin bervariasi. Selain itu, handphone juga sudah menjadi kebutuhan, sehingga setiap orang akan berusaha memilikinya meskipun berpenghasilan kecil. Hal tersebut membuat akses internet tidak hanya bisa diakses oleh orang-orang berpenghasilan tinggi saja. Seperti yang terlihat pada table, setiap orang dengan berbagai pekerjaan dan pendapatan dapat melakukan akses internet.


Menggunakan internet merupakan hak bagi semua orang. Termasuk para penyandang disabilitas. Kekurangan bukan alasan untuk ketinggalan zaman. Orang dengan disabilitas juga mau dan mampu menggunakan internet. Pada tahun 2014 di kabupaten tempat tinggal saya, Banyumas, pernah diadakan pelatihan internet untuk disabilitas. Pelatihan tersebut diadakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Literasi dan Profesi Kominfo bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Banyumas. Pelatihan tersebut diadakan dengan sasaran para penyandang disabilitas di kota Purwokerto, dan diikuti oleh PERTUNI (Persatuan Tuna Netra Indonesia), ITMI (Ikatan Tuna Netra Muslim Indonesia), PPCI (Persatuan Penyandang Cacat Indonesia), dan Murid SLB Bagian B Yakut Purwokerto. Tujuan hal tersebut tidak lain adalah agar penyandang disabilitas dapat memanfaatkan internet untuk hal-hal positif.

Menurut APJII, beberapa alasan utama masyarakat Indonesia menggunakan intermnet adalah untuk update informasi, pekerjaan, mengisi waktu luang, sosialisasi, pendidikan, hiburan, berbisnis, dan mencari barang. Dari penjelasan di atas, maka masyarakat Indonesia menggunakan internet untuk hal-hal yang positif. Menurut saya, internet dengan segala manfaat positifnya berhak diakses oleh semua orang terlepas dari tempat tinggal, usia, gender, penghasilan, dan kondisi fisik. tidak ada pembatasan terkait pengaksesan internet. Sayangnya, dari penjelasan di atas dapat kita ketahui bahwa pemerataan akses internet belum terwujud karena ada beberapa hambatan yang belum teratasi. Saya pribadi berharap agar beberapa waktu ke depan, semua orang dapat mengakses internet dan mengoptimalkan penggunaannya untuk kemajuan.

Daftar Pustaka

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia. “Survei Internet APJII 2016”. Diakses pada 21 Maret 2017. https://apjii.or.id/content/read/39/264/Survei-Internet-APJII-2016.


Badan Pusat Statistik. “Komposisi Penggunaan Internet Berdasarkan Usia pada Tahun 2016” Diakses pada 21 Maret 2017. https://statistik.kominfo.go.id/site/searchKonten?iddoc=1517.

Badan Pusat Statistik. “Persentase Pengguna Internet Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tahun 2014”. Diakses pada 21 Maret 2017. https://statistik.kominfo.go.id/site/searchKonten?iddoc=1330.


Badan Pusat Statistik. “Penetrasi Pengguna Internet Berdasarkan Pekerjaan Tahun 2016”. Diakses pada 21 Maret 2017. https://statistik.kominfo.go.id/site/searchKonten?iddoc=1515.

Dinas Perhubungan Pemerintah Kabupaten Banyumas. “Penyandang Disabilitas Mendapat Pelatihan Internet”. diakses pada 21 Maret 2017. http://dinhub.banyumaskab.go.id/read/15858/penyandang-disabilitas-mendapat-pelatihan-internet#.WNEGMm_yjDc.

Lievrouw, Leah A. & Sonia Livingstone. 2006. Handbook of New Media: Social Shaping and Social Consquences of ITCs, Sage Publication Ltd. London. Chapter 4: “Perspectives on Internet Use: Access, Involvement and Interaction”.

Nugrahanto, Pradipta. “BigNet Ingin Sediakan Layanan Internet Murah Berkualitas untuk Kawasan Terpencil di Indonesia.” Diakses pada 21 Maret 2017. https://id.techinasia.com/bignet-internet-broadband-satelit-murah-daerah-terpencil.

Yusuf, Oik “Pengguna Internet Indonesia Nomor Enam Dunia”. Diakses pada 21 Maret 2017. http://tekno.kompas.com/read/2014/11/24/07430087/Pengguna.Internet.Indonesia.Nomor.Enam.Dunia.
Share:

Selasa, 14 Maret 2017

Ikut Komunitas Virtual, Kenapa Tidak?

Mengikuti suatu komunitas memang menyenangkan. kita dapat berkenalan dengan orang lain yang memiliki kesamaan minat, juga menambah pengetahuan dari sesama anggota komunitas. Sebelum teknologi semaju sekarang, manusia banyak mengikuti komunitas organik, yaitu komunitas yang melakukan kegiatan dengan bertatap muka secara langsung dan memiliki kegiatan rutin. Namun dengan adanya kemajuan teknologi, kebiasaan itu berubah.

Kemajuan teknologi komunikasi membuat penggunanya bisa berinteraksi dengan pengguna lain tanpa khawatir akan jarak dan waktu. Kebutuhan manusia juga dapat terpenuhi dengan adanya kemajuan teknologi, apalagi dengan adanya internet. Ada pengguna yang memanfaatkan internet untuk kegiatan edukasi seperti pembelajaran e-learning, memenuhi kebutuhan ekonomi dengan membuka online shop, dan mencari informasi di search engine.

Internet juga dapat membantu orang-orang dengan minat yang sama membentuk komunitas. Pernah tidak kalian mencari akun suatu komunitas di platform sosial media? Saya sendiri sering melakukannya, apalagi ketika memiliki hobi baru. Seperti beberapa waktu lalu ketika saya tertarik dengan kegiatan hand lettering, saya langsung mencari akun komunitas hand lettering  di instagram. Dari akun tersebut, saya dapat melihat dan mempelajari karya hand lettering orang lain meskipun belum pernah bertemu secara langsung. Setelah mengikuti akun tersebut, saya jadi bisa membuat hand lettering sendiri.


Hand lettering yang saya buat setelah melihat karya hand lettering orang lain.
Selain saya, ternyata Ibu saya juga melakukan hal tersebut. Beliau bergabung dengan grup facebook yang beranggotakan orang-orang yang suka membuat barang-barang handmade. Di grup tersebut anggotanya saling mengirimkan foto barang yang dibuat, juga penjelasan tentang cara membuatnya. Maka dari itu, Ibu saya sering mendapat inspirasi ketika memiliki waktu luang dan ingin membuat barang handmade. Contohnya saja ketika ibu saya sedang menyukai Bunga Anggrek. Selain menanam bunganya, ibu saya juga membuat Bunga Anggrek handmade yang berbahan stocking.


Anggrek handmade dari stocking buatan ibu saya.
Komunitas yang terbentuk dari internet itulah yang disebut komunitas virtual. Anggota komunitas virtual biasanya tidak pernah bertemu satu sama lain sehingga diskusi dilakukan tanpa kontak fisik. Menarik kan, tidak pernah bertemu tapi bisa bertukar pikiran? Tapi apakah komunitas virtual selalu berdampak positif?

Kalian pernah menemui orang yang sifat dikesehariannya berbeda dengan sifatnya di platform sosial media? Itulah salah satu hal yang seharusnya tidak terjadi ketika menggunakan internet. Terkadang orang yang dikesehariannya pendiam dan pemalu, ternyata sangat aktif menggunakan sosial media, bahkan bisa menjadi pemimpin atau panutan di komunitas virtual. Lebih parah lagi jika terdapat pengguna yang membuat akun di internet dengan identitas palsu. Jika saat ini banyak ditemui orang-orang seperti itu, apa penyebab terjadinya?

Internet memang memberi peluang pada penggunanya untuk membuat identitas baru. Bisa dengan membuat nama palsu, tanggal lahir palsu, hingga jenis kelamin palsu. Biasanya orang-orang yang melakukan hal tersebut adalah orang yang diremehkan dan tidak dianggap di dunia nyata. Ia merasa kurang percaya diri dengan bentuk fisik, wajah, dan keadaan dirinya. Maka dengan membuat identitas baru di internet, ia merasa lebih nyaman karena seolah menjadi orang yang baru. Ia juga Seringkali memiliki keterikatan emosional yang lebih kuat dengan anggota komunitas virtualnya dibanding dengan teman-temannya di dunia nyata. Hal-hal di atas biasa disebut dengan jebakan virtual.

Meskipun penggunaan internet, dalam hal ini komunitas virtual juga memiliki dampak negatif, bukan berarti kita harus menghindari kemajuan teknologi. Sudah seharusnya manusia bijak dalam menggunakannya dan tidak terjerumus pada jebakan virtual. Pengguna harus memanfaatkan internet untuk menunjang kehidupan nyatanya. Misalnya dengan menunjukkan karya yang dibuat melalui internet. Jika menyukai fotografi, bisa memposting hasil gambar di instagram. Jika senang membuat video, bisa membuat channel youtube. Jika suka menulis, bisa membagi tulisannya melalui blog. Apalagi saat ini platform sosial media semakin lengkap. Untuk orang-orang yang suka menyanyi pun ada wadahnya.

Jika sudah melakukan hal tersebut, maka penggunaan internet justru dapat memperkuat identitas kita di dunia nyata. Karya-karya yang kita tunjukan dapat menjadi bukti bahwa kita ada. Dengan begitu tidak ada lagi rasa tidak dianggap dan diremehkan. Lagipula internet merupakan wadah yang efektif untuk menunjukkan karya yang dimiliki karena efisien dan dapat dilihat oleh orang di berbagai penjuru dunia.

Saat ini sudah banyak orang-orang yang berhasil memperkenalkan karyanya dengan memanfaatkan teknologi komunikasi. Misalnya grup musik GAC yang memulai kariernya dengan mengupload video cover di youtube dan kemudian berhasil dikenal sebagai grup musik terbaik di Indonesia, juga Raditya Dika yang awalnya menulis di blog pribadinya kemudian saat ini dikenal sebagai penulis, aktor, dan sutradara professional.

Saya sendiri sudah mencoba melakukan hal tersebut. Saya menulis identitas di seluruh sosial media saya sesuai dengan identitas asli. Saya suka mengunggah hasil foto saya di akun instagram, mengunggah video di akun youtube, dan menulis beberapa tulisan di blog. Hasilnya, beberapa kali saya dimintai tolong untuk mengambil foto dan mengedit video oleh teman-teman, yang berarti mereka mengakui karya yang saya buat.

Jadi, mari berani menjadi diri sendiri dan jangan ragu untuk mengikuti komunitas virtual!

Daftar Pustaka                                                                                              
Lievrouw, Leah A. & Sonia Livingstone. 2006. Handbook of New Media: Social Shaping and Social Consquences of ITCs, Sage Publication Ltd. London. Chapter 2: “Creating Community with Media: History, Theories, and Investigations”



Share: